-->

Peran Sastra Dalam Pendidikan Karakter Anak Bangsa

Sastra memiliki peran yang penting dalam pendidikan anak bangsa. Salah satunya mengembangkan kepribadian dan membentuk karakter setiap anak
Peran Sastra Dalam Pendidikan Karakter

Indonesia. Indonesia negeri permai, negeri subur, negeri dengan sumber daya alam yang melimpah. Namun, apalah guna kalau sumber daya manusia tidak memadai. Moral rusak, kehidupan saling tak acuh, baik pada sesama manusia ataupun lingkungan sekitar. 

Analoginya, ada pemulung yang mempunyai uang satu milyar. Berhubung si pemulung tidak tahu-menahu dalam pengelolaan uang, uangnya pun tidak bertambah. Malah, berkurang atau habis tanpa sisa dan jejak. 

Itu juga yang terjadi dalam sebuah negara, bila manusianya berkualitas rendah. Jadi, harus ada pendidikan di dalam sebuah negara karena pendidikan amat penting dalam membangun negara. 

Dengan pendidikan yang kuat, ekonomi akan meningkat. Bukan ekonomi saja, kesehatan dan kesejahteraan penduduk juga memiliki trafik yang terus meningkat. 

Namun, untuk mencapai hal sedemikian rupa, bukanlah hal yang mudah, semudah mengedipkan mata. Banyak rintangan untuk mewujudkan pendidikan yang bertaraf tinggi. Entah itu biaya, tempat, sarana dan prasarana. 

Sulit, bukan berarti tidak bisa atau mustahil. Banyak cara yang mampu digunakan untuk menjadikan pendidikan lebih baik lagi. Namun, kembali lagi dihadapkan dengan masalah. Masalah diterimanya suatu cara atau metode yang dilakukan itu. Kalau masyarakat tidak menerima suatu metode, sama saja dengan sia-sia.

Metode pendidikan di Indonesia saat ini adalah metode formal yaitu dengan mengharuskan usia anak-anak untuk masuk ke alam persekolahan. Mulai dari SD, SMP, SMA, hingga ke Universitas. Berlanjut terus, tetapi kenapa? Kenapa masih marak kejahatan, bila kita tilik dari lapangan? 

Mulai dari kejahatan kecil seperti yang ada di kampung, sampai kejahatan besar yang ada di kota. Mulai dari kejahatan mencuri sendal, sampai kegiatan mafia yang merugikan orang banyak. Kenapa? Kenapa semua itu masih ada? Apa dalam pendidikan ada yang salah? Kalau tidak salah, kenapa masih ada kejahatan? 

Ketahuilah, bukan pendidikan yang salah, tetapi bagaimana metode yang digunakan untuk menyampaikan pendidikan itu. Ada orang yang cepat bosan dengan hal itu-itu saja. Ada juga yang tekun dan sabar. Setiap orang berbeda-beda. Lalu, apa hubungannya dengan kejahatan yang marak terjadi? Jelas ada hubungannya. 

Orang yang cepat bosan dengan hal itu-itu saja, cenderung tidak memperhatikan lagi. Ia hanya mengikuti, tanpa tahu maksud sebenarnya. Hal ini yang berbahaya dan membuat kejahatan masih terus ada. Mengapa? Karena tidak ada penerapan dari apa yang telah didengar dan dipelajari.

Membuat karakter rusak. Terjadilah kejahatan dan rusaknya moral. Sebab, dalam menimba ilmu, tidak diperhatikan dan diresapi dengan baik. 

Lantas, apa hubungannya sastra dengan pendidikan? Terutama pendidikan karakter untuk menekan angka kejahatan? Jawabannya, tentu saja ada hubungannya.

Berbicara pasal sastra, sastra itu luas. Bahkan, definisi dari beberapa para ahli berbeda antara satu dengan lainnya. Namun, kita punya definisi yang umum. Apa itu? Yakni berpegang pada KBBI—Kamus Besar Bahasa Indonesia. 

Menurut KBBI sastra ialah bahasa (kata-kata, gaya bahasa yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari) 

Dari definisi di atas, diperoleh bahwa sastra mencakup cara berbahasa yang baik. Bukan sekedar berbahasa yang baik saja, tetapi definisi sastra juga menuntun untuk berbuat sesuatu seperti buku lewat gaya bahasa yang baik, agar mudah dipahami banyak orang. 

Bukan cuman buku, tulisan kecil saja, bila gaya bahasa yang digunakan apik, itu sudah bisa dikatakan dengan sastra. Lewat tulisan, lewat karya seni, kita mampu menggerakkan hati seseorang. Mampu memberi informasi dan pengetahuan juga pengalaman bagi satuan orang atau kelompok masyarakat. 

Pernah dengar kata dakwah? Kurang lebih, sama seperti itu. Dengan sastra, kita bisa sambil berdakwah. Tentunya, dengan memberikan hal-hal positif lewat karya yang kita sajikan pada khalayak. 

Intinya apa? Sastra adalah media yang tidak terlalu buruk untuk dijadikan metode dalam pendidikan. Terutama, pendidikan karakter. 

Coba kita bermain dalam hasil observasi dengan mengedepankan realistis. Dimulai dari masa anak-anak. Anak-anak (usia 6-15 tahun) cenderung lebih suka pembelajaran sambil bermain. Masukan sastra dalam pembelajarannya. Mungkin, bisa dengan menyuruh anak itu menuliskan aktivitas sehari-harinya atau aktivitas kesukaannya. Apa yang diharapkan? Harapannya nanti, anak itu bisa sadar dan mampu mengevaluasi apa yang salah dalam berperilaku setiap harinya. 

Jadi, apa kesimpulan yang mampu ditarik? Kesimpulannya adalah apabila, seorang anak, bosan dengan pelajaran yang itu-itu saja, bisa diselingi dengan pembawaan yang berbau sastra dalam aktivitas pembelajaran. Nantinya, si anak akan tumbuh dengan karakter yang baik, moral yang baik, emosi yang baik, juga intelektual yang baik.

Ada pula usia remaja. Usia remaja, ialah usia pencarian jati diri. Usia ini, masih belum matang. Masih bisa serong sana, serong sini. Tergantung lingkungan dan orang-orang di sekitar. Usia remaja juga, mudah menerima suatu paham. Jadi, dengan pendidikan karakter menggunakan metode sastra bisa dengan mudah menyentuh relung hati usia ini. Bisa menggerakkan hati dan paham buruk di otak. Tanamkan hal-hal yang baik lewat tulisan dan karya. Tanamkan minat baca dan minat berkarya. Sehingga, masa depan bangsa, tidak lagi perlu diragukan karena sudah banyak bibit-bibit unggul yang akan maju nantinya. 

Hingga terakhir, usia di mana seseorang hanya bisa duduk di teras sambil meminum secangkir kopi. Sudah bukan usia produktif lagi. Dengan sastra, usia seperti ini masih bisa menyumbang kontribusi dengan ide yang didapat sehabis membaca atau melihat karya seni. Bukankah itu, berguna juga? 

Memang banyak yang menganggap, apakah tulisan bisa mengubah dunia? Jaman sekarang, wajar, bila orang berpikir, tulisan tidak ada harganya. Apalagi, tulisan dari tangan orang non public figure. Pasti, akan diabaikan begitu saja. 

Bagaimana kejahatan bisa dibasmi? Mayoritas orang saja malas untuk menulis. Jangankan menulis, membaca pun enggan. Bagaimana moral karakter mau bagus, kalau menulis atau membaca pun malas. Bagaimana negara bisa maju, kalau orang-orang di dalamnya tidak punya pengetahuan.

Jangan bilang ini miris. Jangan bilang ini aneh. Coba lihat di sekeliling. Sudahkah kejahatan musnah? Jangan musnah, setidaknya berkurang. Apakah sudah? Malah tambah banyak. Media bahkan bosan mengabarkan berita kekerasan, pelecehan, yang itu-itu saja. 

Jadi, kapan lagi? Mulailah membaca. Setelah membaca, mulailah menulis. Setelah menulis, mulailah menghasilkan sesuatu yang berguna bagi banyak orang. Jangan sarankan pada orang terlebih dahulu. Mulailah pada diri sendiri. Cintai sastra. Bangun karakter yang baik, moral, akhlak yang baik. 

Hidup di dunia gelap, dunia hina, dunia kotor, dunia yang hanya berisi kejahatan, tidaklah enak. Apakah kita mau? Hidup ini, hanya berjalan di tempat? Apakah kita tidak mau membuat perubahan besar? Langkah besar? Tidak? Semua orang pasti mau. Jangan biarkan anak cucu kita nanti, hidupnya lebih sengsara. Kasihan mereka, mereka tidak tahu-menahu dengan permasalahan saat ini. 

Maka, mulailah dari langkah kecil. Membaca sehari satu lembar buku, terdengar lebih baik daripada sehari dengan satu kejahatan.

Source:
www.ginzagroup.my.id
www.keelat.com